Wajah Muhammad di Nusantara

Wajah Muhammad dalam geopolitik saat ini dimaknai tunggal, sebagai penguasa dan penakluk bangsa/negeri non-muslim, sebagaimana yg diklaim oleh HTI, al Qaeda dan ISIS.

Padahal beliau menegaskan bahwa kehadirannya tiada lain untuk menyempurnakan akhlak mulia. Hal ini senada dengan dalil naqli bahwa beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Artinya kehadiran agama, apa pun dan di manapun, apalagi Islam, selalu punya wajah lokal dan beririsan dengan nilai2 universal yg mengendap dalam suatu tradisi kebudayaan yang ada.

Kondisi inilah yg kemudian memperkaya wawasan kita bahwa Islam bisa dilihat dan dipahami dari berbagai sudut pandang esoteris dan eksoteris.

Islam hadir di Nusantara untuk menjahit kearifan lokal yang beragam, mempersatukan berbagai elemen masyarakat dengan beragam etnik dan strata sosial, dan menjadi identitas kolektif atas nama bangsa.

Pesan-pesan perubahan sosial dalam Surat al-Ma’un menjadi landasan kelahiran Persarikatan Muhammadiyah pada 1912. Semangat mempertahankan tradisi Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal melahirkan Nahdhatul Ulama pada 1926. Begitulah, wajah Muhammad tidak tunggal. Muhammad dimaknai dan diekspresikan dalam beragam kearifan lokal di Nusantara. Pengendapan nilai yg membuat Islam di Indonesia punya corak yang moderat, toleran, dan terbuka.

Ciketing, 14-11-17

Posted in

Leave a Comment