Olok-olok, Resistensi dan Kritik Sosial

Tidak tanggung-tanggung, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto melaporkan ke polisi 32 akun media sosial pada Selasa, (10/10/17). Total ada 68 meme dilaporkan karena dituduh mencemarkan nama baik, diposting oleh 15 akun Instagram, 9 akun Twitter, dan 8 akun Facebook.

Buntut dari aksi pelaporan ini, polisi menangkap Dyan Kemala Arrizzqi (29 thn), salah seorang warganet yang dituding pengacara Setnov dibayar salah satu partai politik. Yang bersangkutan kini berstatus sebagai tersangka dan dijerat pasal 27 ayat 3 UU No 11/2016 tentang ITE.

Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, mengatakan jika meme-meme tersebut bukan kritik, melainkan pencemaran nama baik.

“Kalau seperti ini (menyebarkan meme) itu bukan kritik, itu pencemaran nama baik. Begini saja deh, yang bersangkutan mau enggak orangtuanya dijelek-jelekkan. Jadi harus bisa bedakan antara kritik dan menghina,” kata Fredrich, seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (2/11).

Staf Ahli Bidang Hukum Kemenkominfo, Henri Subiakto, seperti dilansir Republika.co.id, menganggap beredarnya meme tersebut bukanlah pelanggaran hukum.

“Itu satire namanya, itu bagian dari ekspresi, opini, ekpresi itu satire. Tapi kalau menuduh Setnov pura-pura sakit supaya tidak ditangkap misalnya begitu itu menuduhkan suatu hal,” ujar Henri, Kamis (2/11).

Olok-olok dan Demokrasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan satire sebagai “gaya bahasa yang dipakai dalam kesusasteraan untuk menyatakan sindiran terhadap keadaan atau seseorang”.

Lalu apa kosa kata yang dapat mengambarkan persoalan yang sedang dihadapi Setya Novanto dan para pembuat satire tersebut? Persoalannya adalah olok-olok, yang menurut KBBI artinya“perkataan yang mengandung sindiran (ejekan, lelucon) atau perkataan untuk bermain-main saja; kelakar, senda gurau.”

Untuk pertama kali, ada begitu banyak pihak terlapor dalam jagad politik Indonesia dalam kasus olok-olok (mocking) politik. Masifnya jumlah pihak yang dilaporkan ini, melahirkan olok-olok baru.

Di Twitter, warganet tambah berani berkicau menggunakan #thepowerofsetnov, “Setya Novanto jadi supir, yang nyetir penumpangnya”, tulis akun @gruusomeflower.

Sementara, akun @morningIvan ikutan bergurau, “Setnov ikut uji nyali, setannya yang kerasukan”

Bayangkan! sebelum ada olok-olok terhadap Setya Novanto, di era reformasi, publik sudah sedemikian terbiasa membuat olok-olok terhadap tokoh politik yang dianggap melawan opini publik atau berseberangan kehendak. Serangan melalui olok-olok juga sudah biasa dilakukan pihak kompetitor dalam suatu kontestasi politik seperti pilpres atau pilkada.

Bisakah pembaca membayangkan berapa jumlah orang yang bakal ditangkap polisi saat mengucap kata “terlalu!”, karena menurut Rhoma Irama dan pengacaranya, bergurau dengan kata tersebut sudah mencemarkan nama baik si raja dangdut yang kini ikut berpolitik dengan memimpin Partai Idaman.

Tetapi, nyatanya Bang Haji tidak lakukan itu dan kita bisa tetap tersenyum.

Menanggapi cepatnya polisi merespon kasus olok-olok terhadap Setya Novanto ini, budayawan dan dalang Sudjiwo Tedjo berkicau melalui akun @sudjiwotedjo, “Dgn segala hormat ke polisi, mohon hati2 memroses segala pelaporan soal meme ttg siapapun. Dikit aja keliru langkah, demokrasi meredup”

Politikus Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla, melalui @ulil, “Kalau seseorang bisa dipenjarakan karena meledek tokoh politik, matilah demokrasi kita.” Pejabat publik di era demokrasi terbuka, mesti siap jadi sasaran olok-olok, demikian tambah Ulil Abshar Abdalla.

Belajar dari Dari Sejarah

Dari silang sengketa dan polemik terkait satire, sindiran, kritik, olok-olok, kelakar, senda gurau, kebebasan berekspresi, ledekan, penghinaan, pencemaran nama baik, yang ditafsir terkandung pada meme Setya Novanto, juga implikasinya pada alam demokrasi di Indonesia di atas, marilah belajar dari apa yang pernah dialami oleh sejarah.

Di Yunani kuno, tepatnya Athena, untuk menghormati Dionysus sang dewa anggur, diadakan festival drama yang berlangsung setiap bulan Maret. Drama tragedi, komedi, dan satire, dimainkan dan ditonton oleh warga Athena maupun manca negara baik pria maupun wanita. Drama di teater Yunani kuno, selanjutnya, menginspirasi peradaban dan dunia modern kini di bidang sastra, film dan seni pertunjukan.

Mengapa olok-olok, komedi, dan senda gurau menjadi identik dengan manusia sepanjang sejarah?

Manusia cenderung berhasrat menikmati kesenangan, permainan dan kegembiraan. Manusia karena itu akan mencarinya. Jika binatang cukup menikmati permainan, manusia membutuhkan dan memiliki sesuatu yang lebih, yakni selera humor yang di dalamnya terkandung persepsi dan intelegensia.

Hal-hal tidak biasa seperti kedunguan, keserakahan, dan nafsu berkuasa, adalah sumber lelucon dan olok-olok. Olok-olok yang merupakan unsur dari selera humor, akan membantu manusia menyegarkan pikiran dan menyejukkan jiwa. Dengan berolok-olok, mencipta komedi, manusia berusaha memahami tragedi, hidup yang tragis, sekaligus membalikkan keadaan.

Masyarakat yang makin kritis, makin membutuhkan dan menyukai olok-olok sebagai perlawanan dan kritik sosial. Setya Novanto, di era kiwari, dipahami sebagai pencipta tragedi, yang memungkinkan orang sangat ingin mengolok-oloknya.

Tiada olok-olok tanpa ironi, tiada ironi tanpa tragedi, tiada tragedi tanpa kabar buruk. Manusia, dalam hal ini tidak suka kabar buruk ( )

Posted in

Leave a Comment