Literasi Mia

Namanya Mia Damayanti, mantan mahasiswi biologi UPI. Kini dikenal sebagai tokoh gerakan literasi Jawa Barat. Silakan cari di facebook.

Awalnya Mia ikut suaminya yang kuliah magister di Australia. Lalu, dia bikin program pengiriman guru ke Australia selama dua minggu. Syaratnya cukup mudah, menulis esai bahasa Inggris. Disana para guru mendapatkan short course jurnalistik dan ketrampilan mengajar. Tentu saja sangat bermanfaat dan mendukung karir kependidikan mereka.

Sepulang dari Australia, mereka hidupkan sekolah dengan membuat komunitas literasi untuk para siswanya. Macam macam caranya. Intinya untuk meningkatkan minat baca siswa.

Di suatu sekolah misalnya, guru alumni writing skills tersebut membuat pohon literasi. Di pohon tersebut setiap siswa digambarkan sebagai dahan. Setiap dahan mempunyai ranting ranting berupa buku buku yg selesai dibaca para siswa tersebut.

Ada pula guru yang membudidayakan literasi seperti arisan. Setiap siswa memilih buku buku secara acak. Kemudian siswa mempresentasikan hasil bacaan tersebut di depan kelas.

Dengan melihat sepak terjang Mia tersebut, kita bisa berharap bahwa posisi Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara “Most Littered Nation In the World” (Maret 2016) bisa perlahan terdongkrak lebih baik. Setidaknya Central Connecticut State University, pembuat survei tersebut, bisa membuat rentang lebih luas. Bukankah Indonesia adalah salah satu negara di Asia yg paling banyak menggunakan medsos? Siapa tahu, kita menjadi lebih rajin membaca buku. Terpicu setelah Tere Liye kesal dengan pengguna medsos yg mengutip novelnya secara sembarangan.

Halte Transjakarta Semanggi, 23/11/17, 21:30 WIB

Posted in

Leave a Comment