Kebebasan dan TanggungJawab (Analisis Eksistensialisme Terkait Isu Terorisme)

Oleh: H. Misbah

Orang-orang tidak bertanggungjawab itu, adalah mereka yang dengan semena-mena dan percaya diri
mengatakan bahwa terorisme itu tak beragama, terorisme itu tak terkait agama. Statemen mereka nampak moralis, namun sangat layak digugat.

Bagaimana/Darimana kesimpulan ini didapat?

Manusia punya kecenderungan untuk bebas, menginginkan kebebasan. Bebas itu artinya nihil paksaan. Keterpaksaan terkait dengan fisik, psikologis, kehidupan sosial, faktor kesejarahan dan lain sebagainya. Maka manusia tidak dikatakan bebas bila hidupnya lebih banyak dihimpit keterpaksaan.

Kebebasan manusia memiliki konsekuensi. Semakin bebas, maka semakin besar otoritasnya. Tindakan/Aksi yg bebas mengandaikan tanggungjawab (responsibility). Ini disebut tindakan otentik. Bukan reaksi. Reaksi itu tidak otentik sebab bukan berdasar dari kehendak bebas, berasal dari tekanan/keterpaksaan faktor2 yg sudah disebut tadi.

Penyangkalan bahwa tindakan terorisme itu bukan berasal dari agama itu sia-sia dan reaksioner, dipastikan tidak otentik. Penyangkalan secara implisit mengandung idealisasi, glorifikasi, pemujaan pada kelurusan sejarah, semacam sikap utopis akan masa lalu suatu masyarakat dan peradaban yg tidak ada cacatnya.Tentu saja ada beban amat berat yang coba dipikul. Akhirnya penyangkalan demi penyangkalan itu membentuk fiksi.

Afirmasi terhadap kenyataan adalah bentuk tindakan otentik. Secara psikis membebaskan tekanan. Sehat.

Kok afirmasi? ya karena afirmasi terhadap peristiwa serial teror pasca 911 itu suatu kesimpulan yang bertanggungjawab, realistis, faktual, otentik.

Untuk bisa melakukan afirmasi, bukan hal mudah. Diperlukan kebebasan dari keterpaksaan akibat keterbatasan fisik, intelek, psikologi, sosio-historis. Kebebasan itu akan menuntun pada waktu luang untuk membaca laporan jurnalistik, penelitian, riset, dan analisis sosial di bidang kajian dan studi agama, politik, psikologi politik, filsafat, yang semua itu akan memberikan data seputar peristiwa. Kesadaran akan situasi kini, penghayatan pada konteks.

Afirmasi akan membuat kita lebih bahagia karena ada unsur kebebasan yang merupakan hakikat kemanusiaan kita.

Bahwa ada sebagian anak bangsa yang mengaku muslim, mentafsir bahwa nation state adalah thagut, muslim selain kelompoknya adalah murtad, kafir, itu adalah realitas sosial. Perlu intelek untuk bisa paham bahwa itu sudut pandang seperti itu adalah tafsir dan tafsir itu tidak monolitik. Politik sepanjang sejarah bangsa ini membelah kaum nasionalis, kaum sosialis dan kaum Islam politik.

Dalam konteks Islam politik, sebagian menolak bentuk negara nasional yg eksis hingga sekarang. Orang-orang inilah yang memilih jalan perang, kekerasan dan teror. Bertransformasi sepanjang waktu dari DI/TII atau NII, Komando Jihad, hingga menjadi Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansorut Tauhid, Jamaah Ansorut Daulah dsb.

Data keras itu terhampar di tengah kebebasan informasi sekarang ini. Jadi marilah kita bersama menjadi manusia bebas yang bertanggung jawab atas setiap ucapan, tulisan, pikiran. Lebih banyak melakukan afirmasi, dibanding menyangkal. Kecuali memang tidak memiliki kesadaran kalau selama ini dirinya tidak punya cukup waktu luang untuk tenggelam dalam studi, riset sehingga punya otoritas dan kapasitas dalam menyampaikan statemen.

Hidup bebas, lebih banyak mengafirmasi membahagiakan. Hidup penuh penyangkalan, suram. Padahal, semua layak bahagia. ( )

Posted in

Leave a Comment