Era Digital, Negara-Bangsa dan Globalisasi Politik

Mohammad Hatta pada 2 September 1948 memberi keterangan di depan BP KNIP mengenai politik Indonesia yang memilih tidak pro ini atau pro itu. Inilah mula sebutan politik luar negeri bebas dan aktif. Bebas menentukan jalan sendiri dan aktif dalam perdamaian dunia. Hatta menyebut jika politik Indonesia itu ibarat mendayung di antara dua karang.

Bukanlah hal yang mudah untuk berpolitik secara bebas dan aktif di tengah kekuataan-kekuatan besar yang mengatur kemajuan. Di Abad 21 ini, negara-bangsa kita tidak pernah benar-benar bisa independen di tengah globalisasi politik dan kemajuan teknologi serta kedigjayaan ekonomi dua kekuatan yang terus berteman sekaligus bermusuhan (frenemy-ship), yakni China dan Amerika Serikat.

Kita kini mungkin secara politik masih demokratis, setelah era otoritarian orde baru di mana hanya tersisa sedikit kebebasan berekspresi, tetapi tidak secara ekonomi dan informasi. Perebutan dan kompetisi menguasai sumberdaya alam terbatas berdasar wilayah geografi dan teritorial negara-bangsa yang lemah, sedang dan akan terus terjadi. Posisi pihak-pihak yang berkompetisi di tengah kemajuan teknologi dan pengetahuan (sains), sosial dan budaya, menjadi asimetris.

Internet, yang ide dasarnya adalah bagaimana mengglobalkan keterbukaan informasi, pada prakteknya membentuk gelembung filter bagi pengguna berdasar referensi dan karakter dari informasi yang dicari melalui sistem algoritma. Hal ini memungkinkan sampah informasi dan semangat anti kebebasan di bawah suasana kebebasan seperti rasisme dan kekerasan agama, sangat mungkin terjadi di negara-bangsa yang kalah dalam perang asimetris.

Karena itulah, layak dicermati kemungkinan-kemungkinan polemik dalam undang-undang yang mengatur dunia internet (UU ITE) yang revisinya mulai berlaku sejak hari ini (28/11), Apakah UU itu sedang menjadi perpanjangan tangan rezim pro kebebasan berekspresi atau menjadi pembungkam suara jernih dan kritis dari warga negara? Kita sadar kedaulatan digital itu wajib kita punya sebagai negara berdaulat. Tetapi kita juga tidak ingin negara ini dilemahkan oleh gelembung filter informasi karena perilaku penggunaan internet yang tidak sehat.

Sosok Julian Assange sudah memberi kepeloporan individu dengan wikileaks dalam melawan perang asimetris rezim negara dominan yang melakukan standar ganda dalam politik global. Pilihan kita cukup jelas, berdaulat secara digital, dan mendapat gelembung filter informasi yang sehat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. ()

Posted in

Leave a Comment