Dalai Lama

Dalai Lama bukan sekadar tokoh perdamaian dan spiritualis Tibet, tapi juga tokoh politik yg dipakai untuk kepentingan anti China, Iran, dan semua negara yg melawan hegemoni AS.

Pernyataan diatas muncul dalam salah satu materi kuliah program Kutoh Mudat (Short Course) yg diadakan Al-Mustafa International University, Qom, Iran, pada Februari 2015.

Bagi saya yg banyak bersentuhan dengan wacana pluralisme, demokrasi, dan HAM dengan NGO di Indonesia, mendengar Dalai Lama sbg bagian dari konspirasi global AS dan Zionis seperti melecehkan akal sehat saya. Ralat, bukan cuma saya. Tapi seluruh peserta short course kaget dan protes keras atas informasi negatif ini.

Lihatlah hidupnya sejak kecil. Pemeluk Budha Tibet percaya bahwa Dalai Lama adalah titisan dari Avalokitesvara, bodhisattva of compassion. Hidupnya bersih. Tak berbuat maksiat. Setidaknya begitulah yg dicitrakan oleh film animasi “Ikkyu San”, “Seven Years in Tibet” (1997), “Kundun” (1997), dan tentu saja media massa barat. Tak pelak, Dalai Lama adalah simbol cinta dan kasih. Siapa yg mendukung Dalai Lama tentu menjadi bagian dari masyarakat cinta damai. Sedangkan siapa saja yg menolak Dalai Lama maka dipastikan bagian dari orang jahat, minimal antek China komunis. Dalai Lama bagi warga barat adalah Santa Claus yg hidup. Lihatlah http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/02/100218_dalaibarat.

Dosen short course itu hanya tersenyum. Lalu dia tunjukkan foto Dalai Lama bersama aktivis HAM berdarah Iran, Nazanin Afshin-Jam. Di foto tersebut, Dalai Lama memegang selembar poster bertuliskan Freedom for Iran. https://www.unwatch.org/human-rights-and-freedom-go-hand-in-hand-for-his-holiness-the-dalai-lama-and-nazanin-afshin-jam/

Dalai Lama tidak pernah bicara tegas soal LGBT, bahkan terkesan membiarkan. Untuk penjajahan Israel atas Palestina, dia minta rakyat Palestina menggunakan kalimat santun, agar Israel tidak tersinggung, bila ingin suarakan perdamaian di Palestina. Tentu saja, dia anti perjuangan bersenjata. Dalai Lama juga anti hukuman mati. Gembong narkoba perlu didakwahi agar insyaf. Sedangkan polisi-polisi yg tewas saat operasi pembasmian narkoba adalah takdir Tuhan, bagian dari bunga-bunga surga.

Dalai Lama moderat untuk segala hal, kecuali terhadap negara-negara, yg secara kebetulan, berseberangan dengan negara-negara barat, terutama AS dan Israel.

Hingga kelas berakhir, saya masih menertawakan dosen tersebut sebagai bagian dari sisa Revolusi Islam 1979. Saya anggap dia tidak move on dari teori konspirasi. Bukankah perdamaian adalah inti dari kemanusiaan? Mengapa kita tidak bisa ngopi bareng dengan serdadu Israel untuk mengkritik tindakannya atas rakyat Palestina?

Terpaksa nulis di Bekasi, 9/11/17, 09:30 WIB

Posted in

Leave a Comment